REVIEWDRAMAINDO.COM – Judulnya terdengar akrab, seakan mengingatkan pada ungkapan film komedi tertentu. Namun, Ghost in the Cell jelas bukan sekadar tontonan komedi biasa. Karya ini menjadi penjelajahan baru Joko Anwar dalam memadukan genre thriller, komedi, dan sindiran sosial di dalam satu ruang terbatas, yaitu Penjara. Inilah Tinjauan Ghost in the Cell!
Premisnya sederhana, namun sarat potensi. Berlatar di Penjara Labuhan Angsana, film ini mengisahkan kehidupan para narapidana dengan latar belakang beragam, termasuk seorang jurnalis yang harus menjalani hukuman di tengah lingkungan yang keras dan dipenuhi kepentingan.
Dari sana, alur cerita berkembang menjadi sebuah refleksi mengenai kekuasaan, ketidakadilan, dan bagaimana individu menyikapi ketika terperangkap dalam sistem yang tidak berpihak.
Peracikan Cerita yang Ambisius, Kendati Tidak Selalu Mulus
Sebagai sutradara, Joko Anwar tampaknya sangat menyadari betul materi yang ia angkat. Ghost in the Cell terasa seperti hasil olahan dari berbagai keresahan publik. Mulai dari kritik sosial, suara netizen, hingga isu korupsi dan penyalahgunaan wewenang.

Pada titik ini, film tersebut berhasil. Ia berani, tegas, dan tidak berusaha untuk menyenangkan semua pihak, termasuk institusi yang dikenal korup.
Baca juga: Sinopsis 402: Rumah Sakit Angker Korea (2026), Adaptasi Lokal dari Gonjiam!
Akan tetapi, ambisi tersebut juga membawa konsekuensi. Narasi yang terlalu padat membuat beberapa bagian terasa kurang tertata. Terdapat celah plot yang cukup kentara, terutama dalam pengembangan tokoh jurnalis sebagai penggerak cerita. Bahkan dalam konteks satire, ketidaksesuaian ini tetap terasa mengganggu alur.
Dialog juga menjadi salah satu kelemahan. Beberapa percakapan terdengar seperti “ditulis demi menyampaikan pesan”, bukan mengalir secara alami dari karakter. Akibatnya, interaksi antar tokoh belum sepenuhnya terasa otentik.
Para Aktor Terlihat Menikmati, Namun Kadang Terlalu Santai

Salah satu keunggulan film ini terletak pada jajaran pemainnya. Terlihat jelas bahwa para aktor menikmati ruang kreasi yang diberikan.
Interaksi antar tokoh acap kali menjadi sumber kelucuan utama, terutama dalam adegan-adegan yang terasa spontan. Duel komedi antara Morgan Oey dan Abimana menjadi sorotan tersendiri—penyampaian waktunya solid, dengan energi yang terasa hidup di REVIEWDRAMAINDO.COM.
Namun di sisi lain, pendekatan yang terlalu santai ini juga memberikan dampak. Beberapa tokoh terasa lebih disibukkan dengan “bercanda” daripada memperkuat alur cerita. Nada film yang seharusnya seimbang antara thriller dan satire kadang bergeser terlalu jauh ke arah komedi.

Di antara semuanya, Aming menjadi salah satu yang paling menonjol. Perannya sebagai Tokek menghadirkan perpaduan antara keabsurdan dan intensitas yang unik. Ia berhasil menjaga karakternya tetap menarik tanpa kehilangan arah, bahkan ketika filmnya sendiri terasa tidak konsisten.
Visual Kuat, Atmosfer Terbangun dengan Baik

Dari segi visual, ini adalah salah satu aspek yang paling kokoh. Joko Anwar kembali menunjukkan kemahirannya dalam membangun suasana.
Penjara tidak hanya berfungsi sebagai latar, tetapi juga sebagai simbol. Ruang yang sempit, pencahayaan yang kontras, dan penataan visual yang terkontrol memperkuat kesan terkurung—baik secara fisik maupun sosial.
Terdapat pula sentuhan elemen horor yang disisipkan secara halus, menambah lapisan ketegangan tanpa mengganggu identitas utamanya sebagai sebuah satire.
Kesimpulan

Ghost in the Cell merupakan film yang ambisius, ramai, dan penuh gagasan. Ia tidak selalu tertata rapi, dan di beberapa bagian terasa terlalu ingin menyampaikan banyak hal sekaligus. Namun, pada saat yang bersamaan, film ini juga menunjukkan keberanian dalam menyampaikan kritik dengan cara yang tidak lazim.
Ini bukanlah karya Joko Anwar yang paling solid, tetapi jelas salah satu yang paling banyak melakukan eksplorasi.





