REVIEWDRAMAINDO.COM – Pada pandangan pertama, Dilan 1997 terasa seperti sekuel yang “aman”. Tidak ada upaya besar untuk membuatnya lebih dramatis atau berliku. Justru sebaliknya, film ini memilih jalan yang lebih lugas, bahkan bisa dibilang paling mendekati gaya slice of life. Demikian Ulasan Dilan 1997 kali ini.
Disutradarai oleh Fajar Bustomi, dari dunia karya Pidi Baiq. Film ini tidak lagi berpusat pada kisah cinta remaja seperti sebelumnya, melainkan pada tahapan kehidupan yang lebih matang. Mulai dari kehidupan perkuliahan, dinamika sosial, hingga perkembangan hubungan Dilan dan Ancika.
Narasi Sederhana yang Justru Menjadi Keunggulan

Tidak banyak problem besar yang disajikan. Alurnya mengalir layaknya keseharian. Mungkin aktivitas seperti kuliah, kegiatan organisasi, hingga jalinan asmara yang berkembang tanpa tekanan dramatis berlebihan. Inilah yang membuat Dilan 1997 terasa “ringan”. Namun, ia juga sangat spesifik dalam pendekatannya.
Baca juga: Sinopsis Film Horor Korea Terbaru: Mate dan Permainannya
Namun di sisi lain, pendekatan ini juga membawa risiko. Bagi penonton yang mendambakan konflik kuat atau emosi yang mendalam, film ini mungkin terasa terlalu datar. Tetapi jika dilihat sebagai potret kehidupan, justru di situlah letak daya tariknya. Bahkan, ini adalah film yang paling pas untuk menutup kisah seorang anak muda bernama Dilan.
Perubahan Karakter yang Terasa Alami

Salah satu aspek yang cukup berhasil adalah transisi Dilan ke jenjang mahasiswa. Karakter ini tetap mempertahankan ciri khasnya, namun dengan dinamika yang lebih dewasa.
Pemilihan para pemain juga cukup meyakinkan. Versi dewasa terasa masuk akal, tidak terkesan dipaksakan, bahkan Ariel adalah karakter yang sesuai (Dari segi penampilan hingga akting). Sementara itu, Niken Anjani sebagai Ancika tampil memukau dengan karakter yang cenderung pemalu namun tetap menggemaskan.
Kehadiran Raline Shah dapat dikatakan menjadi kejutan tersendiri. Meskipun perannya tidak dominan, pesonanya cukup kuat untuk meninggalkan kesan. Sementara Arya Saloka muncul sebagai cameo yang sayangnya terlalu singkat untuk memberikan dampak yang signifikan.
Visual yang Mendukung, Namun Tidak Luar Biasa

Dari segi visual, film ini tidak berusaha tampil berlebihan. Latar Bandung dan elemen properti sudah cukup memadai, meskipun masih terdapat beberapa detail yang terasa kurang akurat, terutama dalam pemilihan kendaraan dan properti yang sesuai era.
Namun, hal ini tidak terlalu mengganggu karena fokus utama film memang terletak pada narasi dan interaksi antar karakter, bukan pada aspek visual yang rumit.
Film yang Mengetahui Audiensnya
Pada akhirnya, Dilan 1997 adalah film yang sangat memahami siapa target penontonnya. Ini bukanlah film untuk semua orang. Namun, bagi mereka yang menghargai makna film dan pendekatan slice of life, film ini justru terasa hangat dan menghibur.
Dengan cerita yang sederhana dan akhir yang cenderung manis, film ini lebih cocok Anda nikmati sebagai renungan ringan tentang kehidupan dan hubungan, bukan sebagai tontonan dengan konflik yang besar. Jadi, Ulasan Dilan 1997: 8/10!





