REVIEWDRAMAINDO.COM – Sinema horor Indonesia dalam beberapa tahun terakhir terkesan terlalu nyaman berkutat pada tema yang sama dari Jawa, legenda yang itu-itu saja, dan pola yang kian mudah diprediksi. Songko hadir sebagai sebuah pengecualian kecil yang cukup berani, dengan menyajikan narasi dari Minahasa, sebuah elemen yang jarang diangkat oleh para sutradara maupun produser ke REVIEWDRAMAINDO.COM lebar. Mari simak ulasan Songko berikut ini!
Alurnya sederhana, sebuah desa kecil dilanda kekacauan setelah seorang gadis perawan menghilang. Dugaan segera tertuju pada Songko, entitas yang mereka yakini kerap menculik gadis-gadis muda untuk tujuan yang lebih kelam. Namun, di tengah tudingan tersebut, Helsye justru merasakan ada sesuatu yang janggal, seolah teror yang terjadi tidak sesederhana yang dibayangkan oleh penduduk desa. Dari titik inilah, film mulai membangun lapisan misteri sekaligus rasa paranoid kolektif.
Cerita Songko Lebih Berani dan Menyegarkan

Keunggulan utama Songko terletak pada cara film ini mendekati konflik. Gerald Mahamit tidak sekadar menampilkan sosok “hantu”, tetapi juga menggambarkan bagaimana ketakutan dapat berkembang menjadi kepanikan massal.
Pertikaian antarwarga, tudingan tanpa bukti, hingga pengusiran menjadi cerminan menarik tentang bagaimana masyarakat bereaksi terhadap sesuatu yang tidak mereka pahami. Inilah yang membuat Songko terasa lebih hidup dibandingkan dengan kebanyakan film horor lokal.
Baca juga: Zombieverse Season 2 Siap Meluncur dengan Tema "New Blood
Namun, film ini tidak sepenuhnya tanpa cela. Perubahan emosi para penduduk terkadang terasa tidak konsisten, dengan kemarahan yang bisa muncul mendadak tanpa landasan yang cukup kuat. Memang ada upaya penjelasan melalui kilas balik, tetapi pelaksanaannya belum cukup tajam untuk benar-benar mengikat semua motivasi yang ada.
Aktor Lokal Mulai Berani Menunjukkan Kualitas

Di sisi lain, keputusan untuk melibatkan aktor lokal menjadi salah satu daya tarik terbesarnya. Dialog terdengar natural, aksen Manado terdengar otentik, dan interaksi antar karakter terasa alami. Hal ini secara tidak langsung menjadi kritik halus bagi industri perfilman yang masih terlalu sering mengorbankan keaslian demi nama besar.
Visual Langsung dari Minahasa

Secara visual, Songko juga tidak mengambil jalan aman. Pengambilan gambar yang dilakukan langsung di Minahasa menyajikan pemandangan yang menyegarkan, dengan pantai, hutan, dan desa yang terasa nyata, bukan sekadar latar belakang tambahan. Atmosfernya berhasil mendukung nuansa misteri yang dibangun sepanjang film.
Songko mungkin belum mencapai kesempurnaan sebagai sebuah film horor. Namun, keberaniannya untuk keluar dari pola yang sudah terlalu sering diulang membuatnya layak untuk diapresiasi. Setidaknya, ini menjadi pengingat bahwa horor Indonesia memiliki banyak cerita yang belum terungkap, dan Songko baru saja membuka sedikit dari pintu tersebut. Oleh karena itu, kami memberikan nilai film Songko sebesar 7.8/10!





