REVIEWDRAMAINDO.COM – Sulit mencari padanan lain selain satu kata, BRUTAL! Kalau film pertama masih terasa seperti perpaduan thriller intelijen dengan ledakan emosi seorang agen rahasia, maka Dhurandhar: The Revenge memilih jalan berbeda—lebih kejam, lebih liar, dan nyaris tanpa rem. Film ini seperti ingin membuktikan bahwa dendam, jika diarahkan dengan benar, bisa menjadi senjata paling mematikan.
Pertanyaannya sekarang, apakah ini salah satu sekuel action paling nekat dari India dalam beberapa tahun terakhir? Jawabannya, ini paling nekat!
Dendam Hamza Kini Berubah Jadi Mesin Perang

Cerita kembali mengikuti Hamza alias Jaskirat yang kini harus menuntaskan ancaman terorisme dengan cara yang jauh lebih berbahaya. Demi menyusup ke jantung musuh di Pakistan, ia mengubur identitas lamanya dan berubah menjadi sosok baru bernama Sher-e Baloch alias Hamzah.
Masalahnya, identitas baru itu tidak pernah benar-benar aman. Lingkungan sekitarnya penuh kecurigaan. Semua orang mencium sesuatu yang salah. Apakah ia benar-benar salah satu dari mereka, atau sekadar mata-mata yang sedang menunggu waktu tepat untuk menyerang?
Namun di tengah operasi penyusupan tersebut, Hamza justru menemukan fakta yang kembali membuka luka lama. Trauma masa lalu, kemarahan, dan rasa kehilangan perlahan membangunkan kembali sosok Jaskirat, versi dirinya yang jauh lebih brutal dan tidak lagi mengenal batas.
Sekuel yang Menukar Drama dengan Amarah

Kalau berharap Dhurandhar: The Revenge penuh drama emosional atau momen heroik yang ringan, lupakan saja. Film ini terasa seperti mesin amarah tanpa henti. Aditya Dhar seperti sengaja membuang rem dan membiarkan semuanya bergerak liar.
Baca juga: Film Colony Raih Skor 70 Persen di Rotten Tomatoes
Adegan kepala terpenggal, penyiksaan brutal, baku tembak jarak dekat, hingga operasi intelijen penuh paranoia hadir tanpa banyak kompromi. Bahkan intrik politik antara India dan Pakistan dibuat cukup gelap untuk menambah rasa tidak nyaman sepanjang film berjalan.

Yang menarik, brutalitas itu tidak hadir sekadar untuk shock value. Ada alasan emosional di balik semuanya. Kilas balik masa lalu Hamza/Jaskirat memberi konteks kenapa karakter ini berubah menjadi begitu destruktif. Di titik inilah film terasa lebih dari sekadar parade darah dan peluru.
Meski begitu, film ini punya satu kelemahan: ritme penceritaan yang kadang terlalu ambisius. Struktur maju-mundur digunakan cukup intens demi membangun misteri dan emosi karakter. Pada beberapa bagian berhasil memperkuat tensi, tapi di sisi lain juga berpotensi membuat penonton kehilangan fokus.
Espionage yang Tidak Cuma Jual Ledakan

Hal paling mengejutkan dari film ini justru datang dari sisi espionage-nya. Dhurandhar: The Revenge tidak hanya sibuk menjual ledakan atau aksi baku hantam seperti kebanyakan film action besar.
Ada permainan intelijen yang terasa cukup kompleks. Agen ganda, operasi infiltrasi, manipulasi informasi, hingga perang strategi antar lembaga membuat film ini terasa lebih padat dibanding sekadar tontonan action biasa.
Menariknya lagi, film ini berhasil menjaga intensitas tanpa tenggelam dalam dialog berat seperti banyak film spionase Hollywood. Semua informasi penting tetap bergerak bersama aksi, bukan menghentikannya.
Ranveer Singh Benar-Benar Lepas Kendali

Kalau ada satu alasan terbesar kenapa film ini tetap terasa hidup di tengah kekacauan dan darah di mana-mana, jawabannya adalah Ranveer Singh.
Sebagai Hamza sekaligus Jaskirat, ia tampil seperti dua manusia berbeda dalam satu tubuh. Ada sisi dingin seorang operator intelijen, tapi ada juga amarah liar yang terasa siap meledak kapan saja. Ranveer bermain sangat fisikal di sini—kasar, emosional, dan penuh intensitas.
Sementara itu, Madhavan sebagai Ajay Sanyal juga tampil kuat. Sosok kepala intelijen yang tenang tetapi penuh tekanan berhasil ia mainkan dengan sangat meyakinkan. Chemistry antara para pemain pendukung pun terasa solid, sesuatu yang sering menjadi kekuatan film action skala besar India.
Gore yang Sadis, Tapi Tetap Punya Tujuan
Visual menjadi salah satu kekuatan terbesar film ini. Ledakan besar, operasi militer, hingga hujan peluru tampil dengan skala yang terasa masif. Bahkan ketika CGI terlihat jelas di beberapa momen, intensitas adegan masih cukup kuat untuk membuat penonton mengabaikannya.
Namun yang paling mencolok tetap elemen gore-nya. Film ini tidak takut memperlihatkan konsekuensi kekerasan secara frontal. Kadang terasa berlebihan, tetapi anehnya justru sesuai dengan dunia penuh dendam yang sedang dibangun.
Kesimpulan
Dhurandhar: The Revenge bukan film action yang sopan. Ini film yang datang untuk menghajar penonton dengan kemarahan, darah, paranoia, dan dendam yang terus membusuk.
Tidak semuanya sempurna, alur maju mundurnya kadang terlalu sibuk dan durasi terasa sedikit berlebihan. Tetapi ketika bicara soal intensitas, keberanian visual, dan aksi espionage brutal, film ini jelas bermain di level yang berbeda.
Review Dhurandhar: The Revenge adalah 8/10 Brutal, penuh amarah, dan mungkin jadi salah satu film action India paling nekat tahun ini.





