REVIEWDRAMAINDO.COM – Film yang berani mengadaptasi fenomena internet sekaligus menawarkan pendekatan unik memang jarang ditemui. Salah satu contohnya adalah Backrooms. Film ini, yang terinspirasi dari creepypasta dan video viral karya Kane Parsons, tidak hanya memanfaatkan lorong kuning dan ruangan kosong untuk menakut-nakuti penonton.
Sebaliknya, Backrooms lebih berfokus pada eksplorasi perasaan kesepian, obsesi, dan tekanan psikologis yang dialami karakter ketika terjebak dalam sebuah ruang tanpa akhir.
Cerita film ini mengikuti sebuah eksperimen yang dilakukan oleh A-Sync, sebuah perusahaan yang berhasil menciptakan ruang liminal dengan struktur yang terus berkembang tanpa batas. Ketika Clark memasuki ruang tersebut, ia menemukan realitas yang jauh lebih mengerikan daripada sekadar labirin tak berujung.
Ruangan itu perlahan berubah menjadi cerminan dari ketakutan, trauma, dan kondisi mental para karakter yang terperangkap di dalamnya.
Ceritanya Benar-Benar Berbeda
Di sinilah Backrooms menunjukkan identitasnya yang khas. Bagi penonton yang mengharapkan genre survival horror dengan banyak monster dan adegan kejar-kejaran, film ini mungkin akan terasa berbeda dari ekspektasi.
Fokus utama film ini bukanlah pada ancaman fisik, melainkan pada bagaimana karakter berjuang menghadapi tekanan psikologis yang terus menghantui mereka. Ruangan kosong yang sekilas tampak sederhana justru menjadi sumber ketegangan utama sepanjang film.
Pendekatan ini membuat Backrooms terasa lebih mencekam daripada sekadar menakutkan. Banyak momen dalam film yang sengaja dibangun untuk menciptakan rasa tidak nyaman melalui keheningan yang panjang, lorong yang seolah tak berujung, serta ketidakpastian mengenai apa yang sebenarnya menanti di balik setiap sudut.
Film ini berhasil memahami bahwa terkadang ketakutan terbesar justru berasal dari imajinasi penonton sendiri.
Renate Reinsve Contoh Kekuatan dari Film
Dari segi akting, Renate Reinsve tampil sebagai salah satu elemen terkuat dalam film ini. Ia berhasil membawakan beban emosional karakternya dengan sangat meyakinkan, membuat setiap konflik yang dihadapi terasa begitu personal.
Sementara itu, Chiwetel Ejiofor memerankan sosok yang perlahan kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Meskipun porsi kemunculannya terasa berkurang menjelang akhir cerita, penampilannya tetap memberikan fondasi emosional yang kuat bagi film.
Kehadiran Lukita Maxwell juga turut memberikan dinamika tambahan di tengah suasana film yang cenderung muram.
Visual Kekuatan Utamanya
Namun, kekuatan terbesar Backrooms tetap terletak pada aspek visualnya. Film ini berhasil menerjemahkan konsep liminal space ke REVIEWDRAMAINDO.COM lebar dengan sangat efektif.
Lorong-lorong kosong, ruangan yang seolah belum selesai dibangun, hingga pencahayaan yang terasa tidak alami, semuanya berkontribusi dalam menciptakan atmosfer yang membuat penonton terus merasa gelisah.
Bahkan ketika REVIEWDRAMAINDO.COM menampilkan sesuatu yang kosong, film ini masih mampu membuat penonton menantikan sesuatu yang buruk akan terjadi.
Kesimpulan
Backrooms mungkin bukanlah film creepypasta yang paling menakutkan dalam pengertian tradisional. Namun, film ini menawarkan pengalaman horor yang lebih bersifat psikologis dan atmosferik.
Film ini dengan cerdas memanfaatkan rasa asing terhadap sebuah ruang yang seharusnya familiar, lalu mengubahnya menjadi sumber kecemasan yang terus menghantui penonton hingga kredit penutup bergulir.
Rating: 8/10





