REVIEWDRAMAINDO.COM – Fenomena adaptasi film luar negeri ke dalam konteks lokal memang selalu menarik untuk disimak. Kali ini, sorotan tertuju pada Munafik: Melawan Iblis, sebuah proyek ambisius yang mencoba menerjemahkan kesuksesan film horor ikonik asal Malaysia ke dalam narasi yang lebih dekat dengan keseharian masyarakat Indonesia. Apakah transisi ini berhasil menghadirkan kengerian yang sama atau justru kehilangan nyawanya?
Secara garis besar, film ini berhasil menangkap esensi spiritual yang sangat akrab di telinga kita. Jika versi aslinya dikenal karena ketegangan yang mencekam, versi Indonesia ini mencoba memadukan elemen religius dengan praktik ruqyah yang memang menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat kita. Penggunaan latar tempat di Pacitan menjadi keputusan kreatif yang cukup cerdas. Kesunyian desa, arsitektur rumah yang tradisional, hingga lanskap alamnya memberikan fondasi atmosferik yang organik dan sangat mendukung terbangunnya rasa tidak nyaman sejak awal film dimulai.
Kekuatan utama film ini terletak pada bagaimana ia membangun teror melalui proses ruqyah. Adegan-adegan konfrontasi antara Ustad Adam dengan sosok yang dirasuki bukan sekadar ajang pamer efek visual, melainkan sebuah pertarungan psikologis yang intens. Kita bisa merasakan ketegangan yang dibangun, di mana setiap gerakan dan ucapan menjadi taruhan nyawa. Ekskalasi horor yang ditampilkan pun terasa lebih brutal dibandingkan pendahulunya, memberikan pengalaman menonton yang cukup menguras emosi.
Namun, sebuah narasi yang kuat tentu membutuhkan fokus yang terjaga. Sayangnya, memasuki babak kedua hingga akhir, film ini seolah kehilangan arah. Penambahan banyak karakter baru dengan konflik yang saling tumpang tindih justru membuat alur cerita menjadi melebar. Alih-alih memperdalam misteri, keputusan ini justru memecah konsentrasi penonton. Nuansa intim dan terisolasi yang tadinya menjadi senjata utama, perlahan pudar karena narasi yang dipaksakan untuk mencakup terlalu banyak elemen sekaligus.
Dari sisi akting, Arya Saloka hadir dengan pembawaan yang cukup tenang sebagai Ustad Adam. Ia tidak mencoba tampil berlebihan, melainkan membiarkan sisi religius karakter tersebut mengalir secara natural sesuai dengan persona yang melekat padanya. Di sisi lain, Acha Septriasa kembali membuktikan kapasitas aktingnya. Ia mampu mengendalikan intensitas emosi dalam adegan ruqyah dengan sangat meyakinkan, menjadikannya salah satu poin plus yang paling menonjol dalam film ini.
Kita juga perlu mengapresiasi penampilan Donny Damara dan Nova Eliza. Meskipun porsi tampil mereka terasa terbatas, keduanya sukses menebar aura misterius yang ambigu. Penonton dibuat menebak-nebak, apakah karakter yang mereka perankan memiliki niat baik atau justru menyimpan agenda tersembunyi yang berbahaya. Jika saja durasi atau porsi karakter mereka lebih digali, dinamika cerita mungkin akan terasa jauh lebih dinamis dan menggugah rasa penasaran.
Bicara soal estetika, visual film ini memang memiliki dua sisi yang kontras. Keindahan panorama Pacitan memberikan identitas visual yang sangat kuat dan menyegarkan mata. Namun, konsistensi teknis menjadi catatan penting bagi tim produksi. Beberapa adegan, khususnya saat terjadi kecelakaan, terasa kurang halus. Kualitas CGI dan eksekusi gerakan kendaraan yang tidak natural membuat momen krusial tersebut justru terlihat kurang meyakinkan dan sedikit merusak realisme yang sedang dibangun.
Sebagai sebuah adaptasi, Munafik: Melawan Iblis adalah sebuah upaya yang cukup berani. Film ini berhasil menerjemahkan kultur horor religi Malaysia ke dalam cita rasa lokal yang sangat mudah diterima oleh penonton Indonesia. Lokasi syuting yang tepat dan akting yang solid menjadi pilar penyelamat bagi narasi yang terkadang kehilangan fokus di tengah jalan.
Pada akhirnya, film ini bisa menjadi pilihan tontonan bagi Anda yang menyukai horor dengan bumbu spiritual yang kental. Meski masih terasa bayang-bayang versi aslinya dalam struktur konfliknya, setidaknya film ini mampu menyajikan atmosfer yang tidak hanya mencekam, tetapi juga memiliki kedekatan emosional dengan penontonnya. Sebuah langkah yang cukup oke, meski masih ada ruang untuk perbaikan dalam hal ketajaman naratif dan konsistensi teknis di masa depan.
Catatan: Keberhasilan adaptasi horor seringkali bergantung pada seberapa mampu sutradara memadukan kengerian universal dengan keresahan lokal yang relevan bagi penontonnya.





