Menjelajahi Pesona Budaya Kesurupan: Tinjauan Para Perasuk

REVIEWDRAMAINDO.COM – Para Perasuk dapat dikategorikan sebagai salah satu karya Wregas Bhanutedja yang paling artistik dan paling mencerminkan ciri khasnya. Pasca Lemantun, Prenjak, hingga Budi Pekerti, film ini terasa seperti pertemuan antara pengalaman pribadi sang pembuat film dengan kebudayaan yang kini semakin jarang dibicarakan, yakni jatilan dan praktik kesurupan. Mungkin, inilah tinjauan Para Perasuk (Levitating).

Sejak premisnya saja, Para Perasuk telah berhasil memikat perhatian. Film ini tidak hanya mengandalkan unsur gaib, tetapi juga menggunakan fenomena kerasukan sebagai jembatan untuk mengulas ego, luka batin, hubungan kekeluargaan, dan trauma masa lalu yang belum sepenuhnya pulih. Hasilnya adalah sebuah narasi yang terasa unik, penuh ketegangan, dan terkadang menusuk hati.

Ingin tahu lebih lanjut mengenai ceritanya? Simak ulasannya di bawah ini.

Klimaks Menjadi Titik Krusial

Bayu mungkin memiliki hasrat untuk menjadi pawang utama di kampungnya, namun Laksmi justru hadir sebagai pengingat bahwa pergulatan terbesar manusia seringkali bukan pada entitas yang merasuki raga, melainkan pada ego yang sulit mereka kuasai. Pada titik ini, film ini cukup efektif dalam menggambarkan bagaimana trauma dapat memunculkan hasrat untuk mendominasi, mengungguli, atau sekadar dipahami secara sepihak.

Baca juga: Sinopsis Dilan ITB 1997: Kisah Perlawanan Dilan

Para Aktor Memberikan Performa Maksimal

Salah satu kekuatan utama film ini terletak pada jajaran pemainnya. Dengan jumlah tokoh yang cukup banyak dan mayoritas berada dalam kondisi kesurupan, para aktor dituntut untuk tampil meyakinkan tanpa terkesan berlebihan. Secara keseluruhan, film ini berhasil mempertahankan keseimbangan tersebut.

Bryan Domani dan Chicco Kurniawan menunjukkan keberanian untuk keluar dari zona nyaman mereka. Anggun juga memberikan kejutan, karena kemunculannya terasa mencuri perhatian dalam beberapa momen krusial. Ini menjadi penanda yang menarik bagi kemampuan aktingnya di REVIEWDRAMAINDO.COM lebar, terutama setelah lebih dikenal sebagai penyanyi.

Visual Memukau, Namun Perlu Pengait Emosi

Wregas kembali memperlihatkan keahliannya dalam memadukan dunia nyata dan ranah spiritual dengan gaya visual yang kuat. Adegan-adegan kesurupan pun diciptakan tidak sekadar menyeramkan, melainkan juga memiliki daya tarik visual yang cukup memikat.

Menariknya, film ini tidak terlalu tenggelam dalam ambiguitas. Penonton yang tidak familiar dengan latar belakang budaya yang diangkat tetap diberi ruang yang cukup untuk memahami alur cerita. Hal ini menunjukkan bahwa Wregas tidak hanya ingin menghasilkan film yang indah, tetapi juga film yang mudah dicerna.

Meskipun demikian, terkadang film ini terasa lebih fokus dalam membangun atmosfer daripada merangkul emosi penonton secara utuh. Beberapa lapisan temanya memang kuat, namun tidak semuanya mendapatkan porsi yang seimbang. Akibatnya, ada momen ketika film terasa lebih mengutamakan gagasan besar ketimbang kedekatan emosional yang konsisten.

Kesimpulan

Para Perasuk merupakan sebuah film yang ambisius, indah, dan kaya akan makna. Wregas Bhanutedja kembali membuktikan bahwa ia bukanlah seorang pembuat film yang puas dengan narasi yang sederhana. Ia mengolah budaya, trauma, dan relasi keluarga menjadi sebuah pengalaman sinematik yang kuat.

Namun, justru karena ambisinya yang besar, film ini terkadang terasa padat dan agak sulit untuk dicerna sepenuhnya. Tidak semua simbolnya mudah dipahami secara instan, dan hal tersebut dapat menjadi keunggulan sekaligus kekurangan.

Meski begitu, Para Perasuk layak mendapatkan apresiasi sebagai salah satu karya Wregas yang paling menarik dari sisi visual dan tematik. Bukan film yang nyaman, namun justru di situlah letak daya tariknya. Skor Tinjauan Para Perasuk (Levitating) 8/10.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *