Sinopsis I Am Frankelda: Penulis Selamatkan Dua Dunia

REVIEWDRAMAINDO.COM – Netflix baru saja merilis film animasi stop-motion berjudul I Am Frankelda, yang menawarkan visual gotik magis yang memikat.

Film ini merupakan karya fitur stop-motion pertama yang sepenuhnya diproduksi di Meksiko. Proyek ambisius ini digarap oleh sutradara bersaudara, Arturo dan Roy Ambriz, dengan bimbingan dari sutradara ternama, Guillermo del Toro.

Proses produksi film ini memakan waktu sekitar tiga setengah tahun. Fase animasi intensif saja telah berlangsung selama lebih dari dua tahun. Produksinya dikenal sangat kompleks, memadukan berbagai teknik seperti stop-motion manual, animasi tradisional, cut-out, dan elemen live-action.

Sinopsis I Am Frankelda

I Am Frankelda mengisahkan perjalanan seorang penulis berbakat di Meksiko abad ke-19 bernama Frankelda. Ia sering kali diabaikan karena karya-karyanya dianggap terlalu gelap dan tidak sesuai dengan selera umum.

Meskipun terus ditekan untuk berhenti menulis, Frankelda gigih mempertahankan suaranya dan menolak menyerah pada visinya. Kehidupannya berubah drastis ketika ia terseret ke dalam alam bawah sadarnya.

Di alam bawah sadar tersebut, semua makhluk ciptaannya menjadi hidup. Frankelda kemudian bertemu dengan Herneval, seorang pangeran yang terjebak di antara mimpi dan mimpi buruk. Herneval menjadi pemandunya dalam menghadapi kekacauan yang muncul antara dunia fiksi dan realitas yang mulai runtuh.

Ancaman nyata muncul dalam sosok penulis gelap bernama Procustes beserta para pengikutnya. Mereka berupaya menguasai keseimbangan kedua dunia yang rapuh tersebut. Di tengah konflik ini, hubungan Frankelda dan Herneval semakin mendalam, namun juga membawa konsekuensi emosional yang rumit.

Untuk menyelamatkan kedua dunia dari kehancuran, Frankelda harus berani menghadapi ketakutan terdalamnya. Ia juga perlu menerima kekuatan penuh dari imajinasinya dan menentukan nasibnya sendiri.

Semua ini harus dilakukannya sebelum karyanya sendiri berubah menjadi mimpi buruk yang tak terkendali dan menghancurkan segalanya.

Poster film I Am Frankelda (sumber: Netflix)

Pengisi Suara

  • Mireya Mendoza mengisi suara Francisca Imelda/Frankelda dan Dama Coyote.
  • Arturo Mercado Jr. berperan sebagai pengisi suara Herneval.
  • Juan Pablo Monterrubio menjadi Hernevalito.
  • Jules Presley menyuarakan Pangeran Herneval kecil.
  • Luis Leonardo Suarez menghidupkan karakter Procustes.
  • Carlos Segundo berperan sebagai Ceimut.
  • Beto Castillo menjadi Rey Ficturo.
  • Assira Abbate mengisi suara Tochina.
  • Arturo Ambriz menyuarakan Timet.
  • Lourdes Ambriz mengisi suara nyanyian Sirena.
  • Roy Ambriz menjadi Dubium.
  • Antonio Badia berperan sebagai Otovejuno.
  • Sergio Carranza mengisi suara Don Coco.
  • Jesse Conde menjadi Editor Damastes.
  • Idzi Dutkiewicz berperan sebagai Mitelitas.
  • Karla Falcon menyuarakan Aluxastli.
  • Magda Giner mengisi suara Totolina/Nenek Maria Concepcion.
  • Anahi Allue mengisi suara nyanyian Totolina.
  • Laura Torres berperan sebagai Chupasangre.
Sutradara I Am Frankelda (sumber: @lapiz_cero_/Instagram)

Dalam sebuah wawancara dengan Variety pada 11 Juni 2026, sutradara Arturo dan Roy Ambriz mengungkapkan bahwa I Am Frankelda adalah karya yang sangat personal bagi mereka. Sebagian besar cerita film ini lahir dari pengalaman pribadi mereka sebagai kreator.

Keduanya menceritakan bagaimana mereka sering menghadapi penolakan saat mencoba mewujudkan proyek film mereka. Banyak pihak yang meragukan kemampuan mereka dan bahkan menyarankan agar mereka meninggalkan mimpi tersebut. Pengalaman pahit inilah yang kemudian mereka tuangkan ke dalam karakter Frankelda.

Karakter Frankelda digambarkan berjuang untuk tetap didengar sebagai seorang penulis, meskipun terus ditekan oleh lingkungan di sekitarnya. Ini mencerminkan perjuangan para pembuat film dalam industri.

Proyek I Am Frankelda sendiri awalnya berkembang dari serial Frankelda’s Book of Spooks yang tayang di Cartoon Network Latin America pada tahun 2021. Setelah serial tersebut meraih kesuksesan, ada rencana untuk menjadikannya sebuah spesial 30 menit.

Namun, dalam proses pengembangan, cerita tersebut berkembang menjadi terlalu besar. Akhirnya, keputusan diambil untuk mengubah proyek tersebut menjadi film REVIEWDRAMAINDO.COM panjang yang lebih epik.

Setiap karakter dalam film ini dibuat dengan pendekatan manual yang cermat. Prosesnya meliputi pencetakan resin, pematung (sculpting), hingga penjahitan kostum secara tangan. Bahkan setelah masuk tahap digital seperti pencetakan 3D, proses akhir tetap dikerjakan secara fisik.

Tindakan ini dilakukan untuk menjaga tekstur khas dan keunikan yang hanya bisa dihasilkan oleh teknik stop-motion. Desain dunia film ini juga terinspirasi dari ilustrasi klasik abad ke-19.

Salah satu inspirasi utama adalah karya Gustave Dore, yang terkenal dengan gaya visualnya yang gelap dan monumental. Hal ini memberikan nuansa visual yang kuat pada film.

Dikutip dari The Wrap pada 15 Juni 2026, kedua sutradara menyebut peran Guillermo del Toro sangat krusial. Del Toro bertindak sebagai mentor yang memberikan masukan berharga, membantu proses distribusi, dan mendukung pengenalan proyek ini ke platform Netflix.

Bagi penonton yang ingin menyaksikan film ini, I Am Frankelda telah tayang di Netflix mulai tanggal 12 Juni 2026.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *