REVIEWDRAMAINDO.COM – Ketika niat balas dendam hanya sebatas omongan, sebab kemanusiaan dan pengampunan tetaplah prioritas utama. Begitulah Jafar Panahi dan kejeniusannya dalam menciptakan karya sinema. Di tengah segala keterbatasan dan larangan berkarya, ia justru mampu menghasilkan film yang sukses diputar di berbagai festival film internasional. Sebuah mahakarya yang menggambarkan penderitaan korban tirani penguasa dan cara balas dendam terindah serta memukau dari korban kepada pelaku. Inilah ulasan film “It Was Just an Accident”.
Jafar Panahi rupanya menggarap film ini secara diam-diam, tanpa diketahui siapa pun. Proses pengambilan gambarnya pun terkesan seperti mencuri-curi kesempatan. Namun, keunikan inilah yang memberikan kesan mendalam pada film ini. Daripada berdebat panjang lebar, mari kita bahas film peraih Palm D’Or 2025 ini.
Alur Cerita Sederhana Namun Penuh Tawa

Inilah yang membuat Jafar Panahi mampu menciptakan film dengan nuansa komedi. Bagaimana ia piawai meramu komedi satir dan kritik terhadap lawan politiknya dalam sebuah narasi yang lugas. Sederhananya, Vahid, seorang mantan tahanan politik, berupaya membalas dendam kepada seorang pejabat pemerintah atau tentara yang pernah menginterogasinya dan rekan-rekannya.
Vahid hanya perlu mencari dukungan dari orang-orang yang pernah menjadi korban kezaliman si ‘kaki palsu’. Alhasil, film ini dipenuhi berbagai macam karakter. Ada Hamid yang geram dengan tingkah si ‘kaki palsu’, begitu pula Vashi dan Golrokh. Jadi, mereka yang ada di dalam mobil itu adalah sekumpulan korban yang merasa terganggu oleh perkataan dan ancaman si ‘kaki palsu’.
Namun, sentuhan Jafar Panahi justru membuat film ini terasa lebih menarik dan jauh dari kesan menegangkan. Sungguh, selalu ada momen komedi yang terselip dari tingkah laku Hamid. Bahkan, semua orang di dalam mobil itu berdebat, namun pada akhirnya kembali membahas masalah pribadi mereka.
Pada akhirnya, rasa iba dan keinginan untuk saling membantu justru membuat mereka berpikir ulang untuk apa membunuh orang tersebut. Pesan yang dapat kita ambil dan pahami adalah bahwa balas dendam paling berkelas adalah tidak membalas dengan kekejaman yang sama seperti yang dilakukan pelaku.
Sebuah pesan yang menusuk dari Jafar Panahi!
Akting dan Sinematografi Memukau

Karena syuting dilakukan secara rahasia, film ini terasa seperti diproduksi secara profesional namun dengan memanfaatkan momen-momen luang. Bahkan, kita bisa mengira film ini dibuat dengan skala produksi besar. Tidak ada guncangan kamera, justru cenderung lebih rapi dan nyaman ditonton. Walaupun, memang lokasi pengambilan gambarnya sangat terbatas dan hanya di beberapa area yang sepi serta tidak terjangkau pantauan pemerintah Iran.
Ditambah lagi, akting Vahid yang benar-benar menampilkan keraguan seorang yang ingin balas dendam. Alias, seperti orang yang kebingungan, namun hal itu terkompensasi oleh penampilan aktor pendukung lainnya. Sehingga, pesan film ini benar-benar terasa.
Baca juga: Review Film The Cursed 2025: Pengorbanan yang Sia-Sia?
Sebenarnya, membahas akting mereka semua sangatlah bagus. Namun, kita akan memberikan penilaian agar lebih realistis. Baiklah, ulasan film “It Was Just an Accident” adalah 9/10!





